Pengertian
manajemen laba
Scott (2000) membagi cara
pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku
oportunistik manajer untuk memaksimumkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak
kompensasi, kontrak utang dan political costs (oportunistic Earnings
Management). Kedua, dengan memandang manajemen laba dari perspektif efficient
contracting (Efficient Earnings Management), dimana manajemen laba memberi
manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam
mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak
yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai
pasar saham perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat
perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.
Healy dan Wahlen (1999),
menyatakan bahwa definisi manajemen laba mengandung beberapa aspek. Pertama
intervensi manajemen laba terhadap pelaporan keuangan dapat dilakukan dengan
penggunaan judgment, misalnya judgment yang dibutuhkan dalam
mengestimasi sejumlah peristiwa ekonomi di masa depan untuk ditunjukan dalam
laporan keuangan, seperti perkiraan umur ekonomis dan nilai residu aktiva
tetap, tanggungjawab untuk pensiun, pajak yang ditangguhkan, kerugian piutang
dan penurunan nilai asset. Disamping itu manajer memiliki pilihan untuk
metode akuntansi, seperti metode penyusutan dan metode biaya. Kedua, tujuan
manajemen laba untuk menyesatkan stakeholders mengenai kinerja ekonomi
perusahaan. Hal ini muncul ketika manajemen memiliki akses terhadap informasi
yang tidak dapat diakses oleh pihak luar.
Manajemen laba adalah campur
tangan dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk
menguntungkan diri sendiri. Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang
dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba menambah bias
dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang
mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa
rekayasa (Setiawati dan Na’im, 2000). Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat
disimpulkan bahwa manajemen laba adalah intervensi manajemn terhadap laporan
keuangan, yang berupa pilihan yang dilakukan oleh manajemen terhadap
kebijakan-kebijakan akuntansi, yang diperkenankan dalam proses pelaporan
keuangan eksternal untuk mencapai tujuan/maksud tertentu, sehinggga dapat
mengurangi kredibilitas laporan keuangan.
Positive
accounting theory terdapat
tiga hipotesis yang melatarbelakangi
terjadinya manajemen laba (Watt
dan Zimmerman, 1986), yaitu:
1) Bonus Plan Hypothesis
Manajemen akan memilih metoda
akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang tinggi. Manajer
perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan earnings lebih banyak
menggunakan metoda akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan.
2) Debt Covenant Hypothesis
Manajer perusahaan yang melakukan
pelanggaran perjanjian kredit cenderung memilih metoda akuntansi yang memiliki
dampak meningkatkan laba (Sweeney, 1994). Hal ini untuk menjaga reputasi mereka
dalam pandangan pihak eksternal.
3) Political Cost Hypothesis
Semakin besar perusahaan, semakin
besar pula kemungkinan perusahaan tersebut memilih metoda akuntansi yang
menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang tinggi pemerintah
akan segera mengambil tindakan, misalnya : mengenakan peraturan antitrust,
menaikkan pajak pendapatan perusahaan, dan lain-lain.
Scott (2000: 302) mengemukakan
beberapa motivasi terjadinya manajemen laba :
1) Bonus Purposes
Manajer yang memiliki informasi
atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara oportunistic untuk melakukan
manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini (Healy, 1985).
2) Political Motivations
Manajemen laba digunakan untuk
mengurangi laba yang dilaporkan pada perusahaan publik. Perusahaan cenderung
mengurangi laba yang dilaporkan karena
adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan yang
lebih ketat.
3) Taxation Motivations
Motivasi penghematan pajak
menjadi motivasi manajemen laba yang paling nyata. Berbagai metoda akuntansi
digunakan dengan tujuan penghematan pajak pendapatan.
4) Pergantian CEO
CEO yang mendekati masa pensiun
akan cenderung menaikkan pendapatan untuk meningkatkan bonus mereka. Dan jika
kinerja perusahaan buruk, mereka akan memaksimalkan pendapatan agar tidak
diberhentikan.
5) Initital Public Offering
(IPO)
Perusahaan yang akan go public
belum memiliki nilai pasar, dan menyebabkan manajer perusahaan yang akan go
public melakukan manajemen laba dalam prospektus mereka dengan harapan
dapat menaikkan harga saham perusahaan.
6) Pentingnya Memberi Informasi
Kepada Investor
Informasi mengenai kinerja
perusahaan harus disampaikan kepada investor sehingga pelaporan laba perlu disajikan
agar investor tetap menilai bahwa perusahaan tersebut dalam kinerja yang baik.
Referensi
Healy and Wahlen, James M. 1998. A Review of
Earnings Management Literature and its Implications For Standard
Setting. Accounting Horizons: 365-383.
Healy, P. M. and K. Palepu. 2001.
Information Asymmetry, Corporate Disclosure, and The Capital Markets : A
Review of The Empirical Disclosure Literature. Journal of Accounting and Economics 31.
Muliati, Ni Ketut. 2011. Pengaruh Asimetri Informasi
Dan Ukuran Perusahaan Pada Praktik Manajemen Laba Di Perusahaan Perbankan Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Tesis : Universitas Udayana.
Setiawati, Lilis dan Ainun Na’im. 2000. Manajemen
Laba. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 15, No. 4, 424-441
Scott, William R. 2000. Financial Accounting Theory.
Second Edition. Canda:Practice Hall
Watts, R.L and Zimmerman,
J.L.1986. Positive Accounting Theory. New York:Pratice Hall.

1 komentar so far
Why Casino No Deposit Bonus Codes Work? - Dr. Dr. McD
The online gambling industry is 진주 출장마사지 known for its numerous 평택 출장마사지 jackpots and bonuses. These bonuses, which are available for 안산 출장마사지 free on a regular basis, 출장안마 are 논산 출장마사지
EmoticonEmoticon